Daftar Blog Saya

Selasa, 04 Maret 2014

Inseminasi Buatan

Proses produksi semen beku
madu pelangsing badan
1.      Persiapan Vagina Buatan (Artificial Vagina/AV)
Metode menampung semen  dengan vagina buatan adalah salah satu metode yang sering digunakan. Vagina buatan yang akan digunakan diolesi vaseline agar vagina buatan menjadi licin. Digunakan air panas dengan temp. antara 50 – 700 C untuk mencapai temperature vagina buatan antara 35 – 400 C.
Metode lainnya yang juga digunakan untuk menampung semen adalah secara massage/pengurutan, dan dengan EE (Electro Ejaculator).
Metode menampung semen secara massage/pengurutan :
-        Tangan masuk ke dalam rektum untuk mengurut ampulla vas deferens dan kelenjar vesikularis ke depan dan ke belakang ± selama 2 menit
-        Perlu keterampilan khusus
-        Penis perlu dicuci dgn air hangat dan NaCl fisiologis
-        Kualitas semen cenderung rendah



Metode menampung semen dengan EE (Electro Ejaculator)
-        Dipergunakan untuk hewan yang tidak mampu menaiki hewan pemancing atau yang tidak biasa melayani vagina buatan
-        Alat berbentuk batang karet dengan panjang 60 cm dan diameter 5 cm yang berisi gelang-gelang elektrode yang bisa dialiri listrik, dimasukkan ke rektum dan ditekan pada dasar pelvis
-        Stimulasi diberikan secara ritmik 5-10 detik
IMG_0001

Gambar  vagina buatan dan pelindung cahaya (kiri) dan metode menampung semen secara pengurutan (kanan)
2.      Persiapan Bull (pejantan unggul)
Sebelum dilakukan penampungan semen sapi, pejantan dipersiapkan terllebih dahulu dengan diolahragakan dengan berjalan di sekitar tempat penampungan.
3.      Persiapan teaser
Kandang penampungan semen/kandang jepit (service crate)
Gambar persiapan teaser

4.      Penampungan semen
Gambar persiapan penampungan semen (kiri) dan pemanpungan semen pada kerbau (kanan)
5.      Hasil penampungan semen
Semen yang berhasil ditampung harus segera dibawa ke  lab dan tidak boleh terpapar sinar matahari secara langsung karena dikhawatirkan akan mengalami kematian pada sperma-sperma yang ada dalam vagina buatan.

6.      Proses pengenceran semen
Semen yang berhasil ditampung langsung dibawa ke lab untuk dilakukan pemeriksaaan secara makroskopis dan mikroskopis sebelum diencerkan denga larutan pengencer. Larutan pengencer terdiri dari akuabidest, skim milk, kuning telur, glukosa, dan antibiotik. Pengencer yang dipakai ada dua macam, pengencer yang menggunakan antibiotik dan yang tidak menggunakan antibiotik. Larutan pengencer yang berbeda tidak digunakan secara langsung melainkan secara bertahap agar sperma tidak mengalami kejutan karena diencerkan terlalu cair. Proses pengenceran ini dilakukan kurang lebig selama 4 jam.
7.      Pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis
Secara Makroskopis, yang meliputi  volume semen, warna semen, bau semen, keasaman dan konsistensi semen. Secara Mikroskopis, meliputi Gerakan massa spermatozoa, Gerakan individual spermatozoa, Konsentrasi semen, Persentase hidup/mati spermatozoa, dan morfologis spermatozoa.
Perhitungan volume semen yaitu dengan  membaca langsung pada tabung penampung semen. Untuk melihat warna semen yaitu dengan melihat langsung langsung pada tabung penampung semen. Konsistensi, yaitu dengan cara menggoyang tabung penampung semen dengan perlahan. Untuk mengetahui pH (drajat keasaman) : dengan kertas lakmus atau pH-meter.
Penilaian gerakan massa spermatozoa yaitu dengan cara setetes kecil semen dilihat dibawah mikroskop. Penilaian gerakan massa spermatozoa: sangat baik (+++), baik (++), lumayan (+), dan N (necrospermia) atau 0.
Gerakan Massa Spermatozoa
Gambar gerakan massa spermatozoa
8.      Pelaksanaan filling and sealing dalam cold handling cabinet
Gambar pelaksanaan filling and sealing
9.      Proses pembekuan (freezing)
Straw yang telah berisi cairan semen kemudian dibekukan  menggunakan cairan nitrogen yang bersuhu -1960C. Straw diletakkan di rak-rak sehingga straw tidak terendam langsung pada nitrogen.
Gambar proses pembekuan (kiri) dan rak untuk proses pembekuan
10.  Penyimpanan semen beku dalam container
Gambar penyimpanan semen beku
11.  Stok semen beku pada balai inseminasi
12.  Pendistribusian semen beku

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IB
Penerapan bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satundengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB jugabakan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere,b1997).
Permasalahan utama dari semen beku adalah rendahnya kualitas semen setelah dithawing, yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada ultrastruktur, biokimia dan fungsional spermatozoa yang menyebabkan terjadi penurunan motilitas dan daya hidup, kerusakan membran plasma dan tudung akrosom, dan kegagalan transport dan fertilisasi. Ada empat faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya kualitas semen beku, yaitu (1) perubahan-perubahan intraseluler akibat pengeluaran air yang bertalian dengan pembentukan kristal-kristal es; (2) cold-shock (kejutan dingin) terhadap sel yang dibekukan; (3) plasma semen mengandung egg-yolk coagulating enzyme yang diduga enzim fosfolipase A yang disekresikan oleh kelenjar bulbourethralis; dan (4) triglycerol lipase yang juga berasal dari kelenjar bulbourethralis dan disebut SBUIII. Pengaruh yang ditimbulkan akibat fenomena di atas adalah rendahnya kemampuan fertilisasi spermatozoa yang ditandai oleh penurunan kemampuan sel spermatozoa untuk mengontrol aliran Ca2+ (Bailey dan Buhr, 1994). Padahal ion kalsium memainkan peranan penting dalam proses kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa. Kedua proses ini harus dilewati oleh spermatozoa selama dalam saluran reproduksi betina sebelum membuahi ovum.


From: http://nusaresearch.net/public/recommend/recommend
Permasalahan pada kambing betina (akseptor IB) dalam kaitannya dengan kinerja reproduksi adalah: (1) variasi dalam siklus berahi dan lama berahi, (2) variasi dalam selang beranak (kidding interval) yang berkaitan dengan involusi uterus; dan (3) gejala pseudopregnancy (kebuntingan semu).
Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu menjelang ovulasi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode berahi. Pada umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode berahi. Ovulasi pada ternak sapi terjadi 15-18 jam sesudah akhir berahi atau 35-45 jam sesudah munculnya gejala berahi. Sebelum dapat membuahi sel telur yang dikeluarkan sewaktu ovulasi, spermatozoa membutuhkan waktu kapasitasi untuk menyiapkan pengeluaran enzim-enzim zona pelucida dan masuk menyatu dengan ovum menjadi embrio (Hafez, 1993). Waktu kapasitasi pada sapi, yaitu 5-6 jam (Bearden dan Fuqual, 1997). Oleh sebab itu, peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan IB. Kegagalan IB menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak.
Apabila semua faktor di atas diperhatikan diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam (Tambing, 2000). Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi peternakan akan tercapai.
Manfaat Penerapan IB
Manfaat penerapan bioteknologi IB pada ternak (Hafez, 1993) adalah sebagai
berikut :
  1. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  2. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  3. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  4. Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  5. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
  6. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
  7. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Penerapan Ib Ditinjau dari Aspek Bioetika
Dalam pandangan bioetika, penerapan bioteknologi reproduksi IB berhubungan erat dengan aspek kesehatan dan penyelamatan dari kepunahan ternak asli (animal welfare). Problem utama dalam sistem animal welfare dalam kaitannya dengan penerapan bioteknologi adalah efisiensi produksi. Problem ini berkaitan erat pula dengan beberapa faktor, diantaranya (1) ekspresi gen (pertumbuhan yang cepat atau produksi susu tinggi), (2) teknik perkawinan, dan (3) mutasi gen (Christiansen dan Sandoe, 2000).
Dampak negatif yang akan timbul apabila penerapan bioteknologi IB tidak terkontrol dalam kaitannya dengan animal welfare, seperti :
  1. Hilangnya/punahnya ternak lokal akibat terkikis oleh munculnya ternak persilangan (crossbred animal). Hal ini bisa muncul karena persepsi masyarakat (petani/peternak) yang lebih menyukai ternak persilangan karena pertumbuhannya lebih cepat dan dampak akhirnya adalah nilai jual yang tinggi.
  2. Dapat menyebabkan stress dan menimbulkan resiko pada animal welfare. Pemilihan pejantan sebagai sumber semen yang tidak tepat (kemungkinan mengandung gen lethal) akan menimbulkan beberapa dampak negatif, antara lain masa kebuntingan lebih panjang, meningkatnya kejadian kesulitan melahirkan (distokia) dan tingginya frekuensi gen anomali dan anak yang dilahirkan memiliki bobot lahir yang melebihi ukuran normal dan penurunan daya reproduksi.
  3. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
  4. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
  5. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
  6. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
  7. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
  8. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
  9. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
  10. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
  11. Hilangnya keanekaragaman akibat dipertahankan alel yang sama pada populasi ( hilangnya gen), sehingga rentan terhadap penyakit bila alel resisten hilang.


From: http://nusaresearch.net/public/recommend/recommend
Namun demikian dampak negatif tersebut dapat ditanggulangi melalui upaya konservasi in-situ dimana petani/peternak ikut serta di dalamnya. Program konservasi in-situ yang telah dilakukan pada ternak lokal antara lain : (1) mengisolasi bangsa ternak lokal dalam suatu lokasi tertutup dan dilakukan upaya pemurniannya, (2) mendatangkan pejantan unggul yang sejenis dengan bangsa ternak lokal tersebut untuk dilakukan program perkawinan dengan ternak lokal yang telah diisolasi, (3) melakukan program pemuliaan dan seleksi dengan ketat, dan (4) mengaplikasikan program IB dengan menggunakan semen yang berasal dari pejantan unggul. Hal yang terpenting adalah upaya dari petugas dan petani dalam mencatat (recording) identitas semen induk dan turunannya, serta adanya bank sperma yang untuk semua ternak lokal atau non local sehingga tidak terjadi kemusnahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar